Terimakasih Risma, Sudah Mendengar dan Memotong “Itu”

Dua minggu lalu, saya melewati Bundaran Waru dan terlihat perubahan di pintu masuk kota Surabaya yang dikenal sebagai kotanya para Pahlawan ini.

Bila sebelumnya saya kecewa dengan adanya tetenger baru di pintu masuk kota, yang membuat malu –setidaknya saya sebagai warga kota, karena “mengidentikkan” kota ini sebagai kota Rokok. Kali ini saya bergembira ada perubahan nyata yang mengobati kecewa melihat pintu masuk kota tersebut.

Dan kembali saya rasakan kebanggaan memiliki pemimpin kota yang mau mendengar keluhan warganya. *)

Terimakasih Risma….

Tetenger berupa videotron raksasa yang berada di Bundara Waru sebagai wajah pertama yang dilihat saat orang berkunjung ke Surabaya, kini tak lagi nampak “icon” dari perusahaan rokok. Sudah “dipotong” habis oleh pemerintah kota Surabaya –yang saya yakin ini pasti instruksi bu Wali Kota.

Videotron di Bundaran Waru sebelum “dtebas” itunya.

Kini hanya nampak videotron “gundul”, yang tidak lagi bisa mengklaim dengan pongah sebagai tetenger kota dan tunjukkan wajahnya menyambut tamu-tamu Surabaya. Puas,… senang rasanya hati ini.

Tapi…. Bu Risma.

Agak disayangkan juga, kenapa tagline kebanggaan warga kota “Sparklink Surabaya”, ikut disunat juga?

Hemat saya, itu mesti dibiarkan disana, jangan ikut ditebas, karena itu tagline yang sudah menjadi brand kebanggan warga kota.

Surabaya yang bercahaya, yang gemerlap, yang nyaman dan tidak pernah tidur. Itukan kampanye yang Ibu Wali luncurkan dalam rangka mengundang para wisatawan datang ke Surabaya.

Kalau boleh usul lagi pada pemerintah Kota Surabaya,–walau saya sejatinya tidak paham bundaran Waru itu kewenangan siapa, videotron itu kalau bisa “disikat” sekalian saja.

Maksud saya, disikat sekalian agar tidak lagi menampilkan iklan rokok disana. Karena agak kurang “sempurna” kerjanya jika setelah menyunat icon “Suryanation” dibawah videotron tersebut, tapi masih saja Videotron tersebut tayangkan iklan-iklan rokok setiap harinya.

Alangkah baiknya, videotron itu “diakuisisi” saja, jadikan tempat untuk menampilkan atraksi-atraksi di Kota Surabaya, atau tampilkan gambar/video heroiknya Surabaya tempo doeloe. Plus bangun diorama atau patung-patung apalah, yang bisa tunjukan “Anda sedang memasuki kota Pahlawan”.

Saya rasa, itu jauh lebih bermanfaat. Setidaknya anak-anak kita terus mengingat bahwa Surabaya kota Pahlawan itu bukan sekedar slogan kosong, tapi predikat yang diberikan karena Arek-Arek Suroboyo telah membuktikan pada masa lalu, tahun 1945, mereka siap mati berkalang tanah, bersimbah darah, untuk pertahankan Indonesia ini.

So, Bu Risma…… Saya dan mungkin banyak warga Kota lain yang peduli, menunggu agar Bundaran Waru jadi Wajah Sempurna sebagai penyambut tamu yang berkunjung ke Surabaya. Kami di belakang Ibu….. tebas !!

 

*) Ini mungkin, ge-er nya saya saja, padahal Risma menyunat Icon Rokok itu bukan karena protes di tulisan saya hehe

 

loading...

Ferry Koto

Seorang Usahawan, Memimpikan Indonesia Yang Berdaulat, Yang bergotong Royong untuk Mandiri dan Bermartabat

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *