Pemerintahan Baru, Amerika Rasa Indonesia

Menyaksikan Pelantikan Donald Trump. Presiden Amerika Serikat ke-45 yang ditayangkan stasiun Televisi Swasta Tanah Air, serasa menyaksikan pidato pelantikan Presiden Indonesia, apalagi bertepatan hari Jumat. Sangat jauh kesan sebagai pidato Presiden dari sebuah negara yang mengklaim sebagai Polisi Dunia, sebagai negera Demokrasi terbesar dunia, sebagai negara ter-liberal, sebagai negara pendorong Globalisasi. Indonesia banget … 

Dalam pidato berdurasi hampir 20 menit tersebut, kegarangan Amerika sebagai Polisi Dunia yang selama ini menentukan hitam-putihnya dunia, lenyap bagai ditelan bumi. Hanya dalam sebuah kalimat selintas Donald Trump masih kampanyekan penumpasan terorisme, -yang lagi-lagi khas Amerika menstigma Islam dengan Radikalisme (padahal terorisme itu tentu tidak ada kaitannya dengan ajaran agama).

Nampak nyata “keinsyafan” Presiden ke-45 Amerika ini, bahwa menjadi Polisi Dunia telah membuat negera lain mengambil keuntungan, sementara dalam negeri sendiri terabaikan. “Melindungi perbatasan-perbatasan negara lain, tapi perbatasan Amerikan sendiri diabaikan, memberikan subsidi personil militer negera lain sementara personil militer negara sendiri hidup menyedihkan, menghabiskan Trilyunan untuk negara lain sementara infrastruktur dalam negeri dibiarkan rusak,” diantara keinsyafan Trump.

Diakhir keinsyafan, Trump mengirimkan pesan humanis pada seluruh pemimpin Dunia, “Kita tidak ingin mencari cara untuk memaksakan jalan hidup kita kepada orang lain, tetapi biarkan hal tersebut menjadi sebuah contoh untuk diikuti oleh orang lain.” Semacam farewell bagi politik luar negeri Amerika yang selama ini suka memaksakan kehendak. Meminjam istilah arek Suroboyo, Tobat tenan Pamam Sam

Sisi lain, hampir keseluruhan pidato Trump, berbicara tentang Nasionalisme dengan pesan yang beriringan; anti Globalisme. Tidak pernah saya bayangkan Presiden dari sebuah negara penganjur Globalisasi, pendorong utama WTO, yang selama ini selalu memaksakan kehendak untuk liberalisasi pasar, privatisasi dengan menjauhkan campur tangan negara, kini bicara tentang bagaimana menutup diri, menolak perusahaan asing, produk asing dan tenaga kerja asing, yang telah “memiskinkan” Amerika.

“Berpuluh tahun telah memperkaya Industri Asing, dengan mengorbankan industri Amerika, membuat negara lain kaya sementara kesejahteraan rakyat Amerika menghilang, kesejahteraan kelas menengah Amerika direnggut dan distribusikan keseluruh duina, pabrik-pabrik Amerika dibiarkan berkarat, ditinggalkan keluar negeri, dan jutaan pekerja Amerika mengganggur,” diantara baris-baris kalimat gugatan Presiden ke-45 ini kepada Globalisasi yang selama ini diagungkan, tapi nyata menggerogoti kesejahteraan rakyat Amerika sendiri.

Sebuah keinsafan lain ditasbihkan bahwa negara yang tidak hadir “mengintervensi” pasar, membiarkan segalanya bertarung bebas di pasar, membuka bebas pasar Amerika dimasuki produk dari negera manapun, pekerja dari manapun, telah merugikan rakyat Amerika sendiri.

Kesadaran sebagai sebuah negara yang harus mendahulukan kepentingan rakyatnya, bahwa pemerintah sesungguhnya bekerja penuh untuk rakyat, diangkat dengan sebuah slogan Amerika First. “Kita akan mengikuti dengan dua aturan sederhana: beli produk Amerika dan menggunakan tenaga kerja Amerika,” sangat nasionalis, sebuah pesan kuat niat campur tangan negara ke pasar.

Sangat Indonasia sekali kan pidato Trump tersebut. Amerika rasa Indonesia?

Hemat saya, sangat sesuai dengan kebutuhan dan kondisi rakyat Indonesia secara aktual saat ini, dimana negara ini diserbu produk asing, diserbu pekerja asing, dihajar kiri-kanan dengan kepentingan asing.

Sayangnya, itu pidato pengukuhan Presiden Amerika ke-45 yang insyaf, bahwa selama ini pemerintahan mereka telah salah pilih jalan. Dan saat ini Presidennya bertekad-bulat, akan bekerja sepenuh hati untuk rakyatnya, bukan sekedar menyuruh rakyatnya; Kerja, Kerja, Kerja, sementara politisi di Ibukota mengambil keuntungan dan semakin sejahtera. “Washington berkembang, tetapi rakyatnya tidak ikut menikmati kesejahteraan itu,”

Jika Amerika sudah serasa Indonesia, menurut anda, Indonesia saat ini berasa apa? #CumaNanya @SilaKomen

 

Surabaya, 21 Januari 2017
Ferry Koto

BTW: Untuk militan Pasar bebas, para Radikal WTO atau setidaknya MEA, Liberalis juga Neo liberalis, nampaknya akan punya lawan berat setidaknya 5 tahun kedepan….

Ferry Koto

Seorang Usahawan, Memimpikan Indonesia Yang Berdaulat, Yang bergotong Royong untuk Mandiri dan Bermartabat

Mungkin Anda Menyukai

2 tanggapan untuk “Pemerintahan Baru, Amerika Rasa Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *